Bagaimana Membangun Masa Depan Bisnis [Studi Kasus]

Tiara ngambek dan uring-uringan. Dia habis ketemu bossnya dan dimarahi habis-habisan. “Mas Pam, I HAVE to meet you NOW!”, suaranya terdengar manja dan memaksa. I like the “dominant woman”. That night we met for dinner in FX Plaza.

Kami duduk di pojok restorant itu, dalam suasana agak gelap dan diterangi sebuah lilin putih. Tapi ternyata suasana malam itu bukan suasana romantic sama sekali. Tiara masih uring-uringan dan masih bad mood. I told myself “Ok, Pam, tonight is not the night”

Tiara saat ini bekerja sebagai HR Director in a big family own business yang sedang berkembang pesat. Tiara sangat smart, confident, dan tentu saja charismatic! Setelah menamatkan masternya dalam bidang HR di Amerika, dia bekerja di beberapa perusahaan besar di Indonesia selama belasan tahun dan kemudian menerima offer sebagai HR Director di perusahaan ini.

Dengan begitu idealis dan semangat berapi-api Tiara menganalisa apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh perusahaannya. Perusahaannya memang secara bisnis maju pesat, dan dewasa ini menjadi market leader di fieldnya.

Namun Tiara melihat bahwa kelangsungan bisnis jangka panjangnya ini sangat beresiko. Karena semua kesuksesan bertumpu pada beberapa individu. Dan tentu saja seandainya individu-individu itu pergi, meninggalkan perusahaan, atau meninggal (maaf), perusahaan akan kesulitan untuk mempertahankan kesuksesannya.

Itulah kenapa Tiara mempersiapkan proposal tentang Succession Plan.

Dan setelah mempersiapkan proposalnya berhari-hari, termasuk mengorbankan sabtu minggu bersama keluarga, dia pun tampil percaya diri dan mempresentasikan proposalnya tentang succession plan di depan owner dan Board of Directors.

Ternyata belum sampai presentasinya berjalan setengahnya, ownernya langsung memotong,” Tiara! Please stop it. This is the dumbest idea I have ever heard. Kenapa Tiara gak focus aja ke basic HR seperti admin karyawan dan memperbaiki system yang gak beres beres itu?”

Sekretarisnya owner mempersilahkan Tiara keluar ruangan dan Tiara menelpon drivernya untuk menjemput ke lobby. Di dalam mobil Tiara masih shock, then she call me (like many other desesperate women). That’s how we met…

Saat orange juice dan red wine itu datang, Tiara pun langsung bertanya,”Did I join the wrong company? Should I resign? How can I even continue to work with a boss like that?”

Malam itu suasana Tiara lagi “merah”, semerah baju, tas dan lipstick yang dipakai Tiara! Dan memang Tiara lagi marah-marah (I am dinning with her in the wrong evening!)

Tiara pun meminum red wine nya, sambil meneruskan,”Ibaratnya kalau mereka cuma pengin sopir angkot, ya jangan recruit pembalap Ferrari dong? Buat apa? Kalau mereka cuma mau benerin HR system dan admin, ngapain juga hire gue? Kemahalan kan?”

Saya tersenyum melihat Tiara yang sedang emosi (so exciting), dan saya pun tertarik untuk membahas real case ini.

Kita jawab pertanyaan pertama, apakah Tiara bekerja di perusahaan yang salah? Jawabannya TIDAK! Tiara bekerja di perusahaan yang tepat. Kalau semuanya sudah perfect, buat apa mereka merecruit Tiara? Ingat pada level senior, they hire you as TROUBLESHOOTER!

Justru untuk memperbaiki itu Tiara harus “influencing” dan terus menerus mempengaruhi CEO (dalam hal ini owner) agar mengikuti cara dan inovasi yang dipropose oleh Tiara. Karena dalam hal ini sebenarnya, CEO (sekaligus owner dan boss Tiara) adalah internal customer yang di-manage.

Pertanyaannya, apakah Tiara harus menanyakan apa yang dimaui customernya? Biasanya kita pasti menjawab iya. Karena kita sudah lama dicekoki dengan
– we have to understand our customer
– we have to listen to our customer
– and we have to ask our customers what they want

But think again ….

1. If Henry Ford ask the customer, they will ask for a faster horse
2. Kalau Kodak nanya customer, mereka akan minta foto yang jsa dicetak lebih bagus lagi
3. Kalau HR Director asked CEO mungkin CEO akan bilang benahin saja administrasi karyawan agar lebih baik lagi
4. If Border book shop ask customer, they will ask for a bigger shops
5. If Taxi company ask customers they will ask for more friendly driver… etc… etc…

Apakah kita pikir Apple menanyakan customernya apa yang mereka mau? Coba seandainya Waktu itu Apples tanya ke customers bahwa mereka akan bikin Handphone seharga 10 juga? Pasti gak ada yang mau. Pasti diketawain.

Pasti customer nya akan bilang, gak usah macem macem, justru HandPhone nya dibikin quality of voice nya bagus dan harganya kalau bisa murah.

So did they ask? No they did not ask!

They just did it. Mereka bikin handphone dan kemudian mereka memperkenalkan smartphone pada customer, dan pada saat customernya kagum (wow effect) they have no chocie but to buy.

Apakah sebelum launch taxi on-line Uber ask customers first? No they did not! Apakah Air Asia nanya dulu ke customer? Now they just launched their budget.

Ternyata whatever you do, HR, Marketing, Sales, Product Development atau apapun, there are times you dont need to ask your customers. Jadi kadang kadang, gak ada gunanya nanya customer!

Bikin aja, setelah jadi, perkenalkan ke customer, kalau mereka kagum pasti mereka akan beli!

Dan itu yang juga mestinya dilakukan Tiara. Langsung aja kerjain succession plannya, gak usah tanya tanya dulu. Setelah siap dan jadi, barulah cerita ke CEO nya. Well, sometimes it is easier to ask for forgiveness than permission.

Just do it, make the wow effect and they will be with you!

Terus bagaimana dong supaya apa yang kita lakukan jadi tetap lebih terarah (meskipun tidak bertanya kepada customer)

1. Pelajari Tren di Masa Depan

Amati, pahami dan perkirakan trend yang akan terjadi di masa depan. Kalau anda rajin rajin baca, pasti anda mengerti bahwa beberapa trend sedang melanda dunia (globalisasi, digitalisasi, urbanisasi, talent scarcity, millenial gens, environment friendly …etc)

Berarti anda akan bisa memperkirakan apa impactnya pada field di mana anda bekerja saat ini.

2. Kembangkan Produk yang Dibutuhkan di Masa Depan

Berdasarkan analisa anda, developlH product yang akan menjawab kebutuhan customer anda di masa depan! Kuncinya adalah presiksi kebutuhan mereka di masa depan, antara 1-3 tahun ke depan.

Jangan mendevelop apa yang mereka butuhkan sekarang! Nah inilah yang menjadi masalah kalau anda menanyakan sekarang. Kadang-kadang customer anda sendiri tidak mengerti apa yang dibutuhkan di masa depan!

3. Presentasikan dengan Baik dan Pengaruhi Mereka

Setelah itu, presentasikan ke mereka dengan style yang sangat meyakinkan. Termasuk trend-trend yang akan membuat mereka benar-benar membutuhkan product anda tersebut. Di sinilah teknik influencing anda diuji. Makanya harus diasah dan dilatih!

4. Langsung Kerjakan dan Bereksperimenlah

Jangan terlalu lama berada di masa development, jangan mengharapkan sebuah product sempurna.
As long as you get the basic idea and the main benefits, launch it.

Jangan takut salah, makanya di sini saya tidak menggunakan kata implement, tapi experiment!

5. Belajarlah dari Pengalaman dan Perbaikilah

Pelajari baik baik the lessons learn from the first release, what went well and what could be improved!
Learn , improve and launch the next version!

So remember, sometimes when it is about innovations , DON’T ASK YOUR CUSTOMERS, but you need to make sure you will do these 5 steps …

1. Pelajari Tren di Masa Depan
2. Kembangkan Produk yang Dibutuhkan di Masa Depan
3. Presentasikan dengan Baik dan Pengaruhi Mereka
4. Langsung Kerjakan dan Bereksperimenlah
5. Belajarlah dari Pengalaman dan Perbaikilah

Warm Regards
Pambudi Sunarsihanto

Leave a Reply

Close Menu